Haaaah, ini sebenarnya
seminar dahulu kala banget. aku sempat rekam karena narasumber yang favorit aku
banget, Kak Aio! Iya, salah satu pendongeng Indonesia itu loh! sebenarnya baru
tertarik dongeng belakangan ini aja, soalnya aku sedang ingin belajar jadi guru
PAUD dan kebetulan juga lagi hobi ngeledekkin keponakan dengan membuat
suara-suara aneh. Wah, jadi kepikiran kayaknya nyoba dongeng akan sesuai untuk
aku. Ya sudah, ada seminar Keajaiban Dongeng di Sekolah Nurfahmi, aku langsung
daftar.
Di seminar itu banyak
ilmu yang aku dapetin. Tentang pengaruh dongeng pada perkembangan anak,
tekhnik-tekhnik mendongeng―yang ternyata nggak susah!―,fakta-fakta menarik dari
dunia anak, dan tentunya sesi tanya jawab yang ngebuka wawasan aku tentang
kebingungan para orangtua untuk mendongeng pada anaknya―iyah, maklum jomblo,
hahaha.
Just in case kalian nggak
tau, aku ingin ngenalin dulu siapa Kak Aio ini. Nama aslinya Mochamad Ariyo
Farid Zidni, dengan nama panggilan Mas Aryo. Tapi berhubung dia punya fans
berat sekumpulan anak-anak PAUD yang masih cadel, diplesetin deh namanya jadi
Kak Aio. Laki-laki kelahiran 18 Juni 1980 ini mulai mendongeng sejak
tahun 1999, terinpirasi dari kegiatan mata kuliah Bacaan Anak saat dia
berkuliah di Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Bagi Kak
Aio, dongeng bukanlah sekedar hobi, tapi juga kehidupannya. Sudah banyak
kegiatan yang berhubungan dengan dongeng digeluti oleh Kak Aio. Dia pernah
terlibat dalam kegiatan Trauma Healing Pasca Tsunami Aceh; Gempa Bantul Jogja;
Tsunami Pangandaran; Banjir Besar Jakarta; hingga Pasca Erupsi Gunung Merapi
Jogja. Selain itu lalu juga dongeng di Taman Bacaan Masyarakat, panti asuhan,
dan acara sosial komunitas lainnya.
![]() |
| Fokus berjamaah saat mendengarkan Kak Aio mendongeng |
Kak Aio juga aktif
mengikuti kegiatan mendongeng ke tingkat Internasional, pernah diundang sebagai
perwakilan Indonesia di Singapore, Malaysia, bahkan sampai India. Selain itu juga
menjadi pengajar di berbagai pelatihan dan workshop mendongeng, hingga menjadi
dosen di Universitas Indonesia. Kak Aio juga dipercaya untuk menjadi narasumber
di Bengkel Sastra dari Pusat Bahasa Kemendikbud untuk kelas Apresiasi
Mendongeng dan Penulisan Dongeng ke kota-kota di Indonesia.
Itulah sekilas cerita
tentang Kak Aio, sekarang kita balik lagi ke isi seminar yang berlangsung
selama 2 jam itu.
Mendongeng Itu Nggak Perlu Ribet
Kita semua tau kan
tentang dongeng. Salah satu pendongeng yang popular di masa aku dulu kecil itu
Pak Raden. Kayaknya setiap mendengar Pak Raden mendongeng tuh rasanya seperti
terbawa suasana, seperti kita benar-benar masuk ke dalam ceritanya. Kemampuan pendongeng
yang satu ini membuat aku penasaran, apa sih rahasia sampai membuat sebuah
cerita semenarik itu? Kata Kak Aio, Sebenarnya modal mendongeng itu sederhana
kok. Nggak perlu pakai alat bantu malah. Yang kita butuhkan hanya 4, yaitu
cerita, suara, gerak tubuh, dan ekspresi muka. Iya, hanya itu doang!
Tapi kalau ingin
menambahkan properti tambahan, tentunya diperbolehkan. Propertinya pun nggak
harus yang ribet-ribet. Bisa menggunakan botol aqua, kotak tissue, bantal, atau
benda apapun yang tersedia di rumah. Dengan daya khayal yang masih kuat dalam
kepala anak-anak, mereka akan melihat benda-benda tersebut sebagai tokoh-tokoh
dalam cerita. Dalam kegiatan mendongeng skala besar, properti sangat dibutuhkan.
Sering kan melihat pendongeng di atas panggung dengan membawa boneka di
pangkuannya? Nah, boneka tangan salah satu yang biasa dipakai. Fungsinya adalah
sebagai penarik perhatian dan membuat anak-anak fokus.
Dalam dongeng, cerita
merupakan elemen yang paling penting. Tanpa cerita, kegiatan mendongeng atau
percakapan ringan sekali pun nggak akan pernah dapat dilakukan. Nggak mungkin
dong kita diam aja dalam sesi mendongeng? Karena itu carilah cerita sebagai
bahan. Cerita yang digunakan pun bisa apa aja. Khusus untuk anak, semakin tidak
masuk akal, semakin menarik untuk mereka.
Pemilihan cerita
disesuaikan dengan umur anak. Untuk anak-anak yang berumur 3-7 tahun (kelas 2
SD ke bawah), biasanya diberikan cerita dalam bentuk fable dan personafikasi. Jadi
fable itu adalah bentuk cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh-tokohnya. Hewan-hewan
ini bisa berbicara, berpakaian, dan bertingkah laku layaknya manusia. Personifikasi
pun sebenarnya hampir sama dengan fable, bedanya dia memakai benda mati yang
dihidupkan. Contohnya seperti seperti serial Spongebob yang tokoh utama sponge,
atau film Toys Story yang menceritakan sekumpulan mainan yang hidup saat pemiliknya
pergi.
Untuk orangtua yang ingin
memberikan cerita-cerita kenabian pada usia ini, jangan dulu mengkomunikasikan
hal-hal yang rumit, contohnya seperti surga dan neraka. Karena anak belum paham
konsep itu. Selain itu, jangan memberikan cerita dengan banyak tokoh di
dalamnya. Cukup satu, paling maksimal dua. Tema yang diangkat pun lebih baik
menceritakan hal-hal yang mudah dicerna seperti bersikap ramah pada teman, suka
tersenyum, rajin membantu, dan sebagainya.
Sedangkan untuk anak-anak
7 tahun ke atas, jenis ceritanya lebih berkembang. Bisa cerita rakyat, cerita
fairytales, pokoknya yang ajaib-ajaib. Ya, semacam kisah putri tidur, si cantik
dan si buruk rupa, atau Putri Salju. Ceritanya pun bisa melibatkan lebih dari
dua tokoh. Di usia ini logika anak juga sudah terbentuk, di sinilah kita bisa
menyisipkan kisah-kisah tauladan nabi.
Untuk suara, gerak tubuh,
dan ekspresi, ketiga hal ini adalah satu kesatuan untuk menunjukkan emosi dan
karakter yang ingin disampaikan cerita. Contohnya saja emosi bersedih, suara
bisa dibuat terbata-bata, dengan gerakan tubuh yang berguncang-guncang dan ekspresi
orang yang sedang menangis. Bisa juga untuk menunjukkan karakter dari tokoh. Kalau
karakternya Pak Polisi, suara bisa dibuat tegas, jalannya macho, dan
ekspresinya berwibawa.
1001 Manfaat Dari Membaca Dongeng
Menurut Kak Aio, cara mendongeng
itu terbagi menjadi dua cara:
1. Story
Telling (mendongeng langsung): cara mendongeng ini tidak memerlukan buku,
pendongeng biasanya menuturkan ceritanya secara langsung saja.
2. Read
Aloud (membaca cerita): cara mendongeng dengan menggunakan buku.
Di antara kedua ini, Kak
Aio merekomendasikan cara membaca cerita dengan buku untuk dipakai oleh
orangtua. Kenapa? Ini berhubungan dengan 3 tahapan manusia untuk belajar. Pada
awal perkembangan, manusia belajar dari mendengar. Secara ilmiah, bayi yang
baru lahir belum dapat bisa melihat. Indera yang sudah berfungsi adalah
pendengaran dan perasa. Karena itu saat yang paling tepat untuk mendongeng
pertama kali pada anak adalah sebelum dia lahir pada minggu ke 25 atau pada
bulan ketujuh, kedelapan, dan sembilan. Kenapa? Pada saat itu organ pendengaran
dan perasaannya sudah terbentuk sempurna. Anak itu tidak akan mendengarkan
ceritanya itu apa, atau ini siapa, atau bahasanya apa. Tapi dia akan
mendengarkan dan merasakan getaran suara dari gendang telinganya. Semakin
sering dia mendengar suara itu, semakin nyaman dia dengan suara tersebut.
Bonding yang tercipta pun akan kuat dan nggak akan lepas.
Yang kedua adalah
melihat. Ketika pertama kali anak bisa melihat, dia akan mencontoh segala
kegiatan dan perbuatan yang dicontohkan di hadapannya. Itulah mengapa, saat
orangtua mengajarkan anaknya makan akan
memraktekkan gerakan bagaimana cara menyendok makan sampai akhirnya makan itu
sampai ke mulut, tidak hanya dengan instruksi lisan saja. Gerakannya pun
dilakukan dengan cara yang atraktif sehingga anak dengan antusias mengikuti.
Setelah bisa melihat,
tahap selanjutnya anak akan belajar membaca. Setelah dia bisa baca, dia akan
bisa belajar seumur hidupnya. Tugas kita sebagai orangtua adalah melatih mereka
agar senang membaca. Untuk anak usia PAUD, direkomendasikan menggunakan cara
mendongeng dengan buku. Pilihlah buku bergambar, tapi bukan seperti buku komik
ya, karena itu beda lagi. Biasanya buku anak di usia ini hanya memiliki jumlah
kalimat yang sedikit dan carilah yang ukuran fontnya besar-besar.
Waktu yang terbaik untuk
mendongeng adalah sebelum anak tidur. Karena pada waktu itu, anak dalam keadaan
santai, sudah tidak dipusingkan dengan kegiatan harian seperti mandi, makan,
belajar dan sebagainya. Dalam keadaan santai, anak lebih mudah menerima isi
pesan cerita dan diajak berdiskusi.
Ketika orangtua
membacakan dongeng, posisikan anak ada di samping kita, sambil dipeluk,
dipangku, dan pastikan ada sentuhan kulit. Di mana anak bisa merasakan hangat
tubuh, suara nafas, dan kedekatan bersama orangtuanya. Jangan berhadapan. Momen
ini sangat penting dan harus dimaksimalkan. Karena di momen ini kita membangun
kedekatan dengan anak. Di samping itu, momen seperti ini nggak mungkin
dilakukan ketika mereka remaja nanti, saat mereka jengah untuk dipeluk dan
dicium orangtuanya.
Hal pertama yang harus
dilakukan ketika membaca dongeng adalah memperkenalkan judulnya. Poin
terpenting, apapun yang kita baca, tunjukklah memakai jari. Mengapa? Karena
anak belum bisa membedakan mana gambar dan mana yang tulisan. Dengan menunjuk,
anak tahu mana bagian yang dibaca oleh orangtuanya dan membantunya untuk fokus
pada cerita.
Selain itu, lafalkanlah
setiap kalimat dengan baik dan gerakan mulut dengan gerakan yang jelas. Karena
anak-anak akan mencontoh bagaimana kita melakukannya dan mampu membedakan
setiap kata. Anak-anak juga akan menyikronkan tulisan apa yang terlihat di buku
dengan apa yang dia dengar dan dari situlah dia akan mengenali kata dan bisa
membaca sendiri.
Ajaklah anak untuk
membahas ilustrasi yang ada di buku itu. Ingat ya, dibahas, bukan diberitahu.
Jangan diberitahu ini gunung, ini anjing, ini tanaman. Tapi dengan cara membuka
perbincangan dengan anak, contohnya, “eh ade, ini bunga kamu pernah lihat kan
dulu, ini nama bunganya kira-kira apa ya?” atau bisa juga “ini binatang ada
buntutnya kecil di belakang, kupingnya panjang, suka lompat-lompat, namanya apa
binantang yang seperti ini?”. Buatlah pembicaraan yang merangsang anak untuk
menjawab dan penasaran.
Tips memilih cerita yang
baik adalah hindari memilih cerita yang judulnya saja tidak bagus. Contohnya:
Si Kancil yang Nakal. Judul seperti ini sudah terbaca jalan ceritanya. Di dalam
cerita ini pasti ada kancil dan pasti kancil ini nakal. Lalu apalagi yang mau
diceritakan? Judulnya saja sudah tidak membuat penasaran.
Judul yang terlalu banyak
pesan moral biasanya isinya lebih banyak menggurui dan menceramahi anak. Itu
tidak bagus untuk anak-anak karena menjadikan mereka defensif setelah mendengar
dongeng yang seperti itu, karena ada perasaan dihakimi. Ada yang namanya reverse psychology, yaitu sebuah
kecenderungan untuk menentang sebuah larangan. Contohnya seorang anak dilarang
untuk orangtuanya dengan kalimat “Adeee, kamu tuh jangan bandel, naik-naik ke
atas gitu. Nanti jatuh loh!”. Anak akan merasa dinilai dulu dengan kata bandel.
Membuat dia justru semakin semangat memanjat tinggi. Lebih baik, kita
memberitahukan anak-anak yang baik-baik saja. Semakin banyak kata-kata baik
yang dia serap, semakin nyaman dia mendengarkannya dan nempelnya. Itulah
mengapa dongeng selalu berakhir dengan happy ending. Ini membentuk karakter
anak menjadi pribadi yang optimis dan positif.
“Mama, kata mewujudkan
itu artinya apa?” pernah mendengar pertanyaan itu saat kita sedang asyik
bercerita? Kadang buku cerita menuliskan kata-kata yang sulit untuk anak pahami.
Tapi nggak apa-apa, tetaplah gunakan kata-kata yang ada di buku. Tetap
dibacakan dan jika anak tidak mengerti, baru kita jelaskan. Ini membantunya
untuk belajar tentang bahasa, menambah pembendaharaan kata dan struktur
kalimat. Ketika kita membacakan cerita, akan muncul 4000-5000 kosa kata yang
tidak kita pergunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa yang digunakan lebih
baku dan terstruktur dengan baik. Ketika kemampuan bahasa anak baik, maka dia
akan lebih mudah belajar apapun dan bergaul dengan siapapun.
Salah satu manfaat paling
penting dari dongeng adalah menanamkan pesan moral dan pelajaran kehidupan pada
anak. Bahwa akan selalu ada sebab dan akibat. Bahwa yang baik itu selalu menang
dan yang jahat itu suatu hari akan kalah. Untuk memasukkan hal itu, setelah
selesai mendongeng, orangtua jangan sekali-kali memberitahukan nilai moral yang
terkandung cerita itu ya. Jangan pernah, karena itu membodohi anak. Pakailah
dengan cara membahasnya kembali.
Fungsi membahas itu ada
dua yaitu kita bisa mengetahui daya tangkap anak seperti apa dan dua kita bisa
merangsang proses berpikir anak. Ketika mendengarkan cerita, mereka akan melakukan dua hal yaitu berimajinasi dan
bertanya. Bertanya itu artinya anak mengalami proses berpikir dan setiap
pertanyaannya kita harus menjawabnya. Jangan pernah membiarkan pertanyaannya
tak terjawab. Jika anak bertanya di tengah cerita, langsunglah menjawab, tidak
perlu menunggu cerita itu selesai. Itu akan menjadi kebiasaan yang berbahaya.
Karena membuat anak tidak mau bertanya jika dia tidak mengerti. Semakin sering
dia bertanya, artinya anak semakin pintar karena berarti proses berpikir anak
berjalan. Membahas cerita dengan melontarkan pertanyaan terbuka seperti “apa
yang kamu suka?” atau “apa yang menurut kamu seru?”. Kita juga bisa mengangkat
nilai moral dengan bertanya “menurut kamu, yang baik yang mana?”, “menurut kamu
yang tidak baik yang mana?”. Hindari pemakaian kata jahat, kita berfokus pada
hal yang positif pada cerita.
Membahas juga membentuk komunikasi
dua arah antar orangtua dan anak. Ketika kita cerita ke anak, kita lihat
responnya seperti apa. Di sini, kita belajar bagaimana cara anak menunjukkan
emosinya. Kalau dia nggak ngomong
memberikan ekspresi itu artinya apa.
Cara Membuat Anak Cinta Membaca
Setiap orangtua tentu
ingin anaknya bisa dan suka membaca. Namun kebingungan untuk memulai dari mana.
Kak Aio juga memberikan tips itu problem yang satu itu. Cara pertama,
mengenalkan dongeng dan berceritalah dengan cara yang tak biasa, unik.
Berekspresilah ketika membacakan dongeng. Tunjukkan ekpresi bahagia, lapar, sedih,
marah itu dengan sungguh-sungguh. Bisa menggunakan gerakan tubuh yang
menunjukkan emosi yang kita maksud dan intonasi suara yang sesuai. Anak-anak
akan melihat sebagai sesuatu yang luar biasa dan seru. Dengan begitu, membuat
anak mengidentikkan bahwa cerita yang seru itu pasti datangnya dari buku.
Lama-lama dia jadi suka dengan buku dan membaca.
Yang kedua, ada akses
bukunya. Buku harus ditempatkan di tempat yang bisa dijangkau oleh anak-anak.
Contohnya disebar di lantai, di meja kecil tempat anak belajar, di lemari buku
bagian bawah, di mobil, di kamar mandi, di dekat meja makan, taruh di tas, dan
sebagainya. Selalu dekatkan dengan buku. Koleksilah buku-buku yang menarik.
Tidak perlu selalu buku baru, buku bekas atau buku diskonan pun jadi. Jika ada
momen-momen special seperti ultah bisa menghadiahkan buku.
Yang ketiga, role model.
Contohkanlah gemar membaca yang berbentuk teks cetak. Bukan dalam bentuk
tulisan message whatsapp, atau gadget. Perlihatkan Anda gemar membaca, gemar
membawa buku ke mana-mana. Anak perlahan-lahan akan mengadopsi kebiasaan itu
pada dirinya.
Sesi pertanyaan
1. Kadang
dalam sesi mendongeng, anak melontarkan pertanyaan dalam jangka waktu yang
lama. Bagaimana cara mengalihkannya untuk kembali ke cerita?
Jawab:
Kalau anak banyak bertanya, jawab saja
terus sampai mereka puas. Kalau mau dialihin lagi dan waktunya habis, ya udah
nggak apa-apa. Kita bisa melanjutkan pada keesokkan hari. Sebenarnya saat
mendongeng, bukanlah soal menyelesaikan seluruh cerita. Tapi mendongeng itu
lebih ke pengalaman bersama. Kalau misalnya anak bertanya, ya jawab aja terus.
Kalau dia terus membahas halaman yang sama, ya biarkan saja. Kalau nanti kita
mau bercerita lagi, kita bisa memulai dari awal dan bisa juga melanjutkan di
tempat kita selesai kemarin.
Bahkan kita bisa mengetes logika anak
dengan melewati beberapa halaman cerita, jika dia menyadarinya, berarti proses
berpikir anak berfungsi dengan baik. Karena kemampuan belajar yang harus kita
latih pertama kali adalah kemampuan mendengarkan dan kemampuan melihat atau
memperhatikan. Itu yang paling penting, itu yang membuat anak sensitif pada
lingkungannya. Karena permasalahan anak sekarang adalah tidak sensitif pada
lingkungannya.
Contoh ya, anak sekarang jika bermain
gadget atau menonton TV jika dipanggil orangtuanya tidak akan bergerak dari
tempatnya, kecuali kita tutup layarnya. Nah, itu bahaya sekali. Karena itu
membuat anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain dan dia
tidak sensitif dengan lingkungan. Itu baru di rumah loh, bagaimana saat di luar
di tempat di mana orangtua tidak bisa memantau.
2. Anak
saya ketika saya dongengkan, selalu meminta agar tokohnya itu dia dan
orang-orang sekitarnya, itu nggak apa-apa kan, mas?
Jawaban:
Itu nggak apa-apa, Bu. Kalau dia ingin
dia jadi jadi tokoh di dalamnya dengan orang yang dekat sama dia itu nggak
masalah.
3. Dongeng
yang seperti apa yang cocok dengan anak yang aktif dan nggak bisa duduk diam
dalam mendengarkan cerita?
Jawab:
Dalam mendengarkan cerita ada dua hal
yang perlu diperhatikan yaitu spend of
attention, yaitu jangka waktu seseorang untuk fokus memperhantikan sesuatu.
Contohnya, anak usia kelas 2 SD ke bawah, biasanya untuk fokus mendengarkan
cerita maksimal itu 5 menit. Bahkan 3 menit mendengarkan saja, itu sudah bagus.
Jadi kalau 1 sampai 2 menit bercerita anak sudah main ke mana-mana, itu bukan
berarti orangtua tidak pandai bercerita atau bukunya yang terlalu susah. Tapi
lebih ke fokus yang dimiliki anak itu.
Sebenarnya sesi mendongeng tidak harus
selalu duduk dan mendengarkan cerita. Namun bisa juga dilakukan dalam kegiatan
sehari-hari, contohnya saat sedang macet, kita bisa menceritakan kejadian lucu
yang kita alami ketika macet atau lainnya.
Yang terpenting adalah semakin sering
waktu yang kita luangkan untuk anak dan itu yang akan mendekatkan hubungan
dengan orangtua. Komunikasi itu sangat penting, membuat anak berpikir hal ini
bukan hanya tentang cerita tapi juga komunikasi dengan orangtuanya. Anak jadi
berpikir, orangtua saya sering menceritakan pengalaman dan perasaannya ketika
dia sedih di kantor atau di manapun. Jadi apapun bisa diceritakan pada
orangtua. Nah orangtua sekarang itu malas bercerita pada anaknya. Membuat anak
justru lebih sering curhat pada teman-teman dekatnya tentang apapun. Kalau
temannya baik orangtua bisa tenang, nah bagaimana kalau kebalikannya?
4. Bagaimana
jika anak kita melihat sesuatu materi yang belum sesuai dengan umurnya?
Jawaban:
Tips mendidik anak yang paling baik
adalah jujur. Kalau misalnya kita nggak tau, jujur saja. Bilang saja “Wah, Ayah
nggak tahu. Nanti kita cari tahu bareng ya.”. Jadi anak itu menjadi tahu bahwa
tidak semua hal orangtua itu tahu. Jadi orangtua itu jujur, jadi membuat kita menjadi
manusia dan membuat anak juga menjadi selalu jujur pada kita.
Misalkan anak sudah melihat atau
mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan usianya, tidak senonoh, atau
semacamnya. Kalau saya akan jujur, kalau saya akan bilang begini “Duh, Ayah
sedih nih kalau kamu melakukan itu.” atau “Ih, Ayah kaget loh kalau kamu sudah
melihat itu sebelumnya. Kamu tahu itu apa?”. Boleh kita tanya seperti itu dan
di situ kita harus jujur karena anak sudah melihat konten itu. Misalnya
kegiatan berpacaran di sinetron. Di sinetron itu kan ada dua hal yang ditangkap
yaitu yang kelihatan dan terdengar. Yang terdengar tuh seperti kalimat-kalimat
gombal, rayuan, dan lain-lain. Beda dengan saat kita ngomong dengan anak.
Sedangkan yang kelihatan itu seperti sentuhan fisik, rengakulan, dekat,
pelukan, atau apa. Jika ibu menjawab “nanti kalau saatnya. Ibu akan kasih tahu
itu apa.” justru itu yang bahaya. Karena kita tidak bisa mengawasi anak 24 jam.
Tapi nanti anak suatu saat jika anak keluar dari rumah, bisa ke Mall atau di
jalan raya, dia akan menemukan hal seperti itu di sana. Jadi nggak apa-apa
kalau kita jelaskan lebih awal. Bisa dengan kalimat “Oh itu, ada orang yang
lagi dekat. Mungkin yang satu sayang dengan yang satunya, sama seperti Ibu sama
kamu. Itulah kenapa kalau kamu tidur Ibu selalu ada di dekat kamu.” Nah kalau
dijelas begitu anak akan tahu kalau orang sama orang akan seperti itu dan ada
saatnya itu dilakukan sesama orang dewasa. Itu membuat anak tidak berpikir
negatif. Penjelasan orangtua akan lebih baik daripada anak mengetahui dari
teman sepantarnya. Karena kita tidak tahu bagaimana mereka akan menjelaskannya
karena bisa saja negatif.
5. Bagaimana
jika anak lebih senang mengakses gadget daripada mendengarkan dongeng?
Jawaban:
Sekarang, banyak orangtua yang menganggap
gadget sebagai suatu masalah. Sebnarnya sudah pada tau nih anak itu tidak boleh
terlalu banyak terpapar gadget, tapi pemakaian gadget nggak bisa dihindarin
rasa orangtua untuk memberikan gadget tersebut pada anak. Karena anak lebih
tenang, mudah diawasi, dan anak tidak ke mana-mana. Anak juga dikasih lihat
yang bagus-bagus kok. Sebenarnya itu nggak papa. Ada teman saya yang anaknya
belajar bahasa Inggris dari sana dan sebenarnya gadget memiliki banyak manfaat.
Sebenarnya gadget itu hanya alat dan
sebenarnya untuk anak SD kelas 2 ke bawah kalau dia mengakses gadget, secara
psikologis itu tidak boleh. Sedangkan anak kelas 2 ke atas boleh, namun
dibatasi hanya boleh 10 jam dalam seminggu. Karena dia harus melakukan kegiatan
yang merangsang motorik halus dan motorik kasarnya. Dia harus mengenal sesuatu
yang bisa lihat dan sentuh, karena dia harus belajar apa yang dia lakukan
sehari-hari. Gadget itu cuman mengaktifkan pendengaran dan penglihatan saja,
tapi gadget itu tidak mengaktifkan rasa yaitu sel-sel syaraf yang ada di kulit.
Juga tidak mengaktifkan penciuman dan sensor motorik lainnya yang merangsang
otak. Ketika dia bermain yang menggunakan fisik, dia mengalami pengalaman
menyentuh barang-barang, tahu tentang tekstur, tahu baunya seperti apa dan
otaknya akan mempelajari itu semua.
Nah, caranya adalah jangan dihentikan dan
jangan dialihkan langsung. Pelan-pelan saja. Anak usia PAUD seperti ini harus
ada pendampingan. Jadi sambil bermain, anak juga berinteraksi dengan kita.
Dengan cara kita mengomentari permainan yang dia mainkan, ikut bermain dan
memberikan saran untuk menyelesaikan. Sehingga yang seru tetap orangtuanya,
bukan gadgetnya. Jadi jangan cuma kasih gadget pada anak, lalu ditinggalkan.
Itu yang bahaya. Karena kalau kita tidak dampingi, di usia anak masuk TK saja,
dia sudah dapat menyalakan gadget dan mengakses internet. Kita tidak tahu
apa-saja yang mereka buka di sana. Kalau kita biasa mendampingi, anak akan
mengetahui permainan apa saja yang boleh diakses. Dan jika terbiasa, mereka
justru akan meminta pendapat orangtua apakah boleh meaksesnya atau tidak.
Yang kedua adalah akses. Lebih banyak
mana orangtua memberikan akses buku atau gadget kepada anak. Yang ketiga, role
modelnya. Ketika anak ada di rumah, perilaku seperti apa yang anak lihat dari
orangtuanya. Apakah orangtuanya sering mengakses social media, update
status atau semacamnya? kalau iya, semua yang kita usahakan sia-sia. Karena itu
buat aturan, jika sudah pulang ke rumah, semua gadget disimpan. Kalaupun ada
yang mendesak untuk dikerjakan, lakukan di ruang tertutup di mana anak tidak
bisa melihatnya. Karena sekarang dengan adanya gadget juga semakin dikit
interaksi kita dengan anak-anak. Bahkan ketika jalan-jalan pun penggunaan
gadget sebisa mungkin diminimalkan. Keluarkan untuk hal-hal yang perlu saja,
seperti mengangkat telpon masuk atau mengambil foto. Jadi role model itu
penting juga.
6. Anak
saya lebih senang membaca buku cerita dengan bahasa Inggris. Saya khawatir, dia
belum fasih berbahasa Indonesia, tapi dia sudh mencoba untuk belajar bahasa
Inggris. Apa ini tidak apa-apa?
Jawaban:
Boleh mengajarkan dua bahasa sekaligus,
tapi jangan campur-campur seperti “ayo! Let’s go! Kita eating dulu”. Jadi
berbagi peran, bapaknya mengajarkan bahasa Indonesia dan ibunya mengajar bahasa
inggris, bisa juga sebaliknya. Karena mengenalkan beberapa bahasa itu tidak
akan masalah. Tidak aka nada kebingungan berbahasan. Mungkin awalnya iya, tapi
ke belakang dia akan mengerti kalau setiap bahasa berbeda.
Kalau kita nggak jago-jago banget dengan
bahasa inggris, yang penting kita berani mengucapkannya. Salah nggak apa-apa,
aneh mengucapkannya juga nggak apa-apa. yang penting kita berkomunikasi. Yang
penting berani ngomong, itu yang kita ajarkan pada anak. Sehingga kelak nanti
dia berani memahami dengan mendengarkan.
See you on the next post!


1 comment:
kpan ya terakhir didongengin?
Post a Comment