Thursday, January 28, 2016

Keajaiban Dongeng, Karena Ini Bukan Sekedar Cerita



Haaaah, ini sebenarnya seminar dahulu kala banget. aku sempat rekam karena narasumber yang favorit aku banget, Kak Aio! Iya, salah satu pendongeng Indonesia itu loh! sebenarnya baru tertarik dongeng belakangan ini aja, soalnya aku sedang ingin belajar jadi guru PAUD dan kebetulan juga lagi hobi ngeledekkin keponakan dengan membuat suara-suara aneh. Wah, jadi kepikiran kayaknya nyoba dongeng akan sesuai untuk aku. Ya sudah, ada seminar Keajaiban Dongeng di Sekolah Nurfahmi, aku langsung daftar.

Di seminar itu banyak ilmu yang aku dapetin. Tentang pengaruh dongeng pada perkembangan anak, tekhnik-tekhnik mendongeng―yang ternyata nggak susah!―,fakta-fakta menarik dari dunia anak, dan tentunya sesi tanya jawab yang ngebuka wawasan aku tentang kebingungan para orangtua untuk mendongeng pada anaknya―iyah, maklum jomblo, hahaha.


Just in case kalian nggak tau, aku ingin ngenalin dulu siapa Kak Aio ini. Nama aslinya Mochamad Ariyo Farid Zidni, dengan nama panggilan Mas Aryo. Tapi berhubung dia punya fans berat sekumpulan anak-anak PAUD yang masih cadel, diplesetin deh namanya jadi Kak Aio. Laki-laki kelahiran 18 Juni 1980 ini mulai mendongeng sejak tahun 1999, terinpirasi dari kegiatan mata kuliah Bacaan Anak saat dia berkuliah di Program Studi Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Bagi Kak Aio, dongeng bukanlah sekedar hobi, tapi juga kehidupannya. Sudah banyak kegiatan yang berhubungan dengan dongeng digeluti oleh Kak Aio. Dia pernah terlibat dalam kegiatan Trauma Healing Pasca Tsunami Aceh; Gempa Bantul Jogja; Tsunami Pangandaran; Banjir Besar Jakarta; hingga Pasca Erupsi Gunung Merapi Jogja. Selain itu lalu juga dongeng di Taman Bacaan Masyarakat, panti asuhan, dan acara sosial komunitas lainnya.

Fokus berjamaah saat mendengarkan Kak Aio mendongeng

Kak Aio juga aktif mengikuti kegiatan mendongeng ke tingkat Internasional, pernah diundang sebagai perwakilan Indonesia di Singapore, Malaysia, bahkan sampai India. Selain itu juga menjadi pengajar di berbagai pelatihan dan workshop mendongeng, hingga menjadi dosen di Universitas Indonesia. Kak Aio juga dipercaya untuk menjadi narasumber di Bengkel Sastra dari Pusat Bahasa Kemendikbud untuk kelas Apresiasi Mendongeng dan Penulisan Dongeng ke kota-kota di Indonesia.

Itulah sekilas cerita tentang Kak Aio, sekarang kita balik lagi ke isi seminar yang berlangsung selama 2 jam itu.


Mendongeng Itu Nggak Perlu Ribet

Kita semua tau kan tentang dongeng. Salah satu pendongeng yang popular di masa aku dulu kecil itu Pak Raden. Kayaknya setiap mendengar Pak Raden mendongeng tuh rasanya seperti terbawa suasana, seperti kita benar-benar masuk ke dalam ceritanya. Kemampuan pendongeng yang satu ini membuat aku penasaran, apa sih rahasia sampai membuat sebuah cerita semenarik itu? Kata Kak Aio, Sebenarnya modal mendongeng itu sederhana kok. Nggak perlu pakai alat bantu malah. Yang kita butuhkan hanya 4, yaitu cerita, suara, gerak tubuh, dan ekspresi muka. Iya, hanya itu doang!

Tapi kalau ingin menambahkan properti tambahan, tentunya diperbolehkan. Propertinya pun nggak harus yang ribet-ribet. Bisa menggunakan botol aqua, kotak tissue, bantal, atau benda apapun yang tersedia di rumah. Dengan daya khayal yang masih kuat dalam kepala anak-anak, mereka akan melihat benda-benda tersebut sebagai tokoh-tokoh dalam cerita. Dalam kegiatan mendongeng skala besar, properti sangat dibutuhkan. Sering kan melihat pendongeng di atas panggung dengan membawa boneka di pangkuannya? Nah, boneka tangan salah satu yang biasa dipakai. Fungsinya adalah sebagai penarik perhatian dan membuat anak-anak fokus.

Dalam dongeng, cerita merupakan elemen yang paling penting. Tanpa cerita, kegiatan mendongeng atau percakapan ringan sekali pun nggak akan pernah dapat dilakukan. Nggak mungkin dong kita diam aja dalam sesi mendongeng? Karena itu carilah cerita sebagai bahan. Cerita yang digunakan pun bisa apa aja. Khusus untuk anak, semakin tidak masuk akal, semakin menarik untuk mereka.

Pemilihan cerita disesuaikan dengan umur anak. Untuk anak-anak yang berumur 3-7 tahun (kelas 2 SD ke bawah), biasanya diberikan cerita dalam bentuk fable dan personafikasi. Jadi fable itu adalah bentuk cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh-tokohnya. Hewan-hewan ini bisa berbicara, berpakaian, dan bertingkah laku layaknya manusia. Personifikasi pun sebenarnya hampir sama dengan fable, bedanya dia memakai benda mati yang dihidupkan. Contohnya seperti seperti serial Spongebob yang tokoh utama sponge, atau film Toys Story yang menceritakan sekumpulan mainan yang hidup saat pemiliknya pergi.

Untuk orangtua yang ingin memberikan cerita-cerita kenabian pada usia ini, jangan dulu mengkomunikasikan hal-hal yang rumit, contohnya seperti surga dan neraka. Karena anak belum paham konsep itu. Selain itu, jangan memberikan cerita dengan banyak tokoh di dalamnya. Cukup satu, paling maksimal dua. Tema yang diangkat pun lebih baik menceritakan hal-hal yang mudah dicerna seperti bersikap ramah pada teman, suka tersenyum, rajin membantu, dan sebagainya.

Sedangkan untuk anak-anak 7 tahun ke atas, jenis ceritanya lebih berkembang. Bisa cerita rakyat, cerita fairytales, pokoknya yang ajaib-ajaib. Ya, semacam kisah putri tidur, si cantik dan si buruk rupa, atau Putri Salju. Ceritanya pun bisa melibatkan lebih dari dua tokoh. Di usia ini logika anak juga sudah terbentuk, di sinilah kita bisa menyisipkan kisah-kisah tauladan nabi.

Untuk suara, gerak tubuh, dan ekspresi, ketiga hal ini adalah satu kesatuan untuk menunjukkan emosi dan karakter yang ingin disampaikan cerita. Contohnya saja emosi bersedih, suara bisa dibuat terbata-bata, dengan gerakan tubuh yang berguncang-guncang dan ekspresi orang yang sedang menangis. Bisa juga untuk menunjukkan karakter dari tokoh. Kalau karakternya Pak Polisi, suara bisa dibuat tegas, jalannya macho, dan ekspresinya berwibawa.


1001 Manfaat Dari Membaca Dongeng
Menurut Kak Aio, cara mendongeng itu terbagi menjadi dua cara:
1.   Story Telling (mendongeng langsung): cara mendongeng ini tidak memerlukan buku, pendongeng biasanya menuturkan ceritanya secara langsung saja.
2.   Read Aloud (membaca cerita): cara mendongeng dengan menggunakan buku.

Di antara kedua ini, Kak Aio merekomendasikan cara membaca cerita dengan buku untuk dipakai oleh orangtua. Kenapa? Ini berhubungan dengan 3 tahapan manusia untuk belajar. Pada awal perkembangan, manusia belajar dari mendengar. Secara ilmiah, bayi yang baru lahir belum dapat bisa melihat. Indera yang sudah berfungsi adalah pendengaran dan perasa. Karena itu saat yang paling tepat untuk mendongeng pertama kali pada anak adalah sebelum dia lahir pada minggu ke 25 atau pada bulan ketujuh, kedelapan, dan sembilan. Kenapa? Pada saat itu organ pendengaran dan perasaannya sudah terbentuk sempurna. Anak itu tidak akan mendengarkan ceritanya itu apa, atau ini siapa, atau bahasanya apa. Tapi dia akan mendengarkan dan merasakan getaran suara dari gendang telinganya. Semakin sering dia mendengar suara itu, semakin nyaman dia dengan suara tersebut. Bonding yang tercipta pun akan kuat dan nggak akan lepas.

Yang kedua adalah melihat. Ketika pertama kali anak bisa melihat, dia akan mencontoh segala kegiatan dan perbuatan yang dicontohkan di hadapannya. Itulah mengapa, saat orangtua mengajarkan anaknya  makan akan memraktekkan gerakan bagaimana cara menyendok makan sampai akhirnya makan itu sampai ke mulut, tidak hanya dengan instruksi lisan saja. Gerakannya pun dilakukan dengan cara yang atraktif sehingga anak dengan antusias mengikuti.

Setelah bisa melihat, tahap selanjutnya anak akan belajar membaca. Setelah dia bisa baca, dia akan bisa belajar seumur hidupnya. Tugas kita sebagai orangtua adalah melatih mereka agar senang membaca. Untuk anak usia PAUD, direkomendasikan menggunakan cara mendongeng dengan buku. Pilihlah buku bergambar, tapi bukan seperti buku komik ya, karena itu beda lagi. Biasanya buku anak di usia ini hanya memiliki jumlah kalimat yang sedikit dan carilah yang ukuran fontnya besar-besar.

Waktu yang terbaik untuk mendongeng adalah sebelum anak tidur. Karena pada waktu itu, anak dalam keadaan santai, sudah tidak dipusingkan dengan kegiatan harian seperti mandi, makan, belajar dan sebagainya. Dalam keadaan santai, anak lebih mudah menerima isi pesan cerita dan diajak berdiskusi.

Ketika orangtua membacakan dongeng, posisikan anak ada di samping kita, sambil dipeluk, dipangku, dan pastikan ada sentuhan kulit. Di mana anak bisa merasakan hangat tubuh, suara nafas, dan kedekatan bersama orangtuanya. Jangan berhadapan. Momen ini sangat penting dan harus dimaksimalkan. Karena di momen ini kita membangun kedekatan dengan anak. Di samping itu, momen seperti ini nggak mungkin dilakukan ketika mereka remaja nanti, saat mereka jengah untuk dipeluk dan dicium orangtuanya.

Hal pertama yang harus dilakukan ketika membaca dongeng adalah memperkenalkan judulnya. Poin terpenting, apapun yang kita baca, tunjukklah memakai jari. Mengapa? Karena anak belum bisa membedakan mana gambar dan mana yang tulisan. Dengan menunjuk, anak tahu mana bagian yang dibaca oleh orangtuanya dan membantunya untuk fokus pada cerita.

Selain itu, lafalkanlah setiap kalimat dengan baik dan gerakan mulut dengan gerakan yang jelas. Karena anak-anak akan mencontoh bagaimana kita melakukannya dan mampu membedakan setiap kata. Anak-anak juga akan menyikronkan tulisan apa yang terlihat di buku dengan apa yang dia dengar dan dari situlah dia akan mengenali kata dan bisa membaca sendiri.

Ajaklah anak untuk membahas ilustrasi yang ada di buku itu. Ingat ya, dibahas, bukan diberitahu. Jangan diberitahu ini gunung, ini anjing, ini tanaman. Tapi dengan cara membuka perbincangan dengan anak, contohnya, “eh ade, ini bunga kamu pernah lihat kan dulu, ini nama bunganya kira-kira apa ya?” atau bisa juga “ini binatang ada buntutnya kecil di belakang, kupingnya panjang, suka lompat-lompat, namanya apa binantang yang seperti ini?”. Buatlah pembicaraan yang merangsang anak untuk menjawab dan penasaran.

Tips memilih cerita yang baik adalah hindari memilih cerita yang judulnya saja tidak bagus. Contohnya: Si Kancil yang Nakal. Judul seperti ini sudah terbaca jalan ceritanya. Di dalam cerita ini pasti ada kancil dan pasti kancil ini nakal. Lalu apalagi yang mau diceritakan? Judulnya saja sudah tidak membuat penasaran.

Judul yang terlalu banyak pesan moral biasanya isinya lebih banyak menggurui dan menceramahi anak. Itu tidak bagus untuk anak-anak karena menjadikan mereka defensif setelah mendengar dongeng yang seperti itu, karena ada perasaan dihakimi. Ada yang namanya reverse psychology, yaitu sebuah kecenderungan untuk menentang sebuah larangan. Contohnya seorang anak dilarang untuk orangtuanya dengan kalimat “Adeee, kamu tuh jangan bandel, naik-naik ke atas gitu. Nanti jatuh loh!”. Anak akan merasa dinilai dulu dengan kata bandel. Membuat dia justru semakin semangat memanjat tinggi. Lebih baik, kita memberitahukan anak-anak yang baik-baik saja. Semakin banyak kata-kata baik yang dia serap, semakin nyaman dia mendengarkannya dan nempelnya. Itulah mengapa dongeng selalu berakhir dengan happy ending. Ini membentuk karakter anak menjadi pribadi yang optimis dan positif.

“Mama, kata mewujudkan itu artinya apa?” pernah mendengar pertanyaan itu saat kita sedang asyik bercerita? Kadang buku cerita menuliskan kata-kata yang sulit untuk anak pahami. Tapi nggak apa-apa, tetaplah gunakan kata-kata yang ada di buku. Tetap dibacakan dan jika anak tidak mengerti, baru kita jelaskan. Ini membantunya untuk belajar tentang bahasa, menambah pembendaharaan kata dan struktur kalimat. Ketika kita membacakan cerita, akan muncul 4000-5000 kosa kata yang tidak kita pergunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa yang digunakan lebih baku dan terstruktur dengan baik. Ketika kemampuan bahasa anak baik, maka dia akan lebih mudah belajar apapun dan bergaul dengan siapapun.

Salah satu manfaat paling penting dari dongeng adalah menanamkan pesan moral dan pelajaran kehidupan pada anak. Bahwa akan selalu ada sebab dan akibat. Bahwa yang baik itu selalu menang dan yang jahat itu suatu hari akan kalah. Untuk memasukkan hal itu, setelah selesai mendongeng, orangtua jangan sekali-kali memberitahukan nilai moral yang terkandung cerita itu ya. Jangan pernah, karena itu membodohi anak. Pakailah dengan cara membahasnya kembali.

Fungsi membahas itu ada dua yaitu kita bisa mengetahui daya tangkap anak seperti apa dan dua kita bisa merangsang proses berpikir anak. Ketika mendengarkan cerita, mereka  akan melakukan dua hal yaitu berimajinasi dan bertanya. Bertanya itu artinya anak mengalami proses berpikir dan setiap pertanyaannya kita harus menjawabnya. Jangan pernah membiarkan pertanyaannya tak terjawab. Jika anak bertanya di tengah cerita, langsunglah menjawab, tidak perlu menunggu cerita itu selesai. Itu akan menjadi kebiasaan yang berbahaya. Karena membuat anak tidak mau bertanya jika dia tidak mengerti. Semakin sering dia bertanya, artinya anak semakin pintar karena berarti proses berpikir anak berjalan. Membahas cerita dengan melontarkan pertanyaan terbuka seperti “apa yang kamu suka?” atau “apa yang menurut kamu seru?”. Kita juga bisa mengangkat nilai moral dengan bertanya “menurut kamu, yang baik yang mana?”, “menurut kamu yang tidak baik yang mana?”. Hindari pemakaian kata jahat, kita berfokus pada hal yang positif pada cerita.

Membahas juga membentuk komunikasi dua arah antar orangtua dan anak. Ketika kita cerita ke anak, kita lihat responnya seperti apa. Di sini, kita belajar bagaimana cara anak menunjukkan emosinya.  Kalau dia nggak ngomong memberikan ekspresi itu artinya apa.


Cara Membuat Anak Cinta Membaca

Setiap orangtua tentu ingin anaknya bisa dan suka membaca. Namun kebingungan untuk memulai dari mana. Kak Aio juga memberikan tips itu problem yang satu itu. Cara pertama, mengenalkan dongeng dan berceritalah dengan cara yang tak biasa, unik. Berekspresilah ketika membacakan dongeng. Tunjukkan ekpresi bahagia, lapar, sedih, marah itu dengan sungguh-sungguh. Bisa menggunakan gerakan tubuh yang menunjukkan emosi yang kita maksud dan intonasi suara yang sesuai. Anak-anak akan melihat sebagai sesuatu yang luar biasa dan seru. Dengan begitu, membuat anak mengidentikkan bahwa cerita yang seru itu pasti datangnya dari buku. Lama-lama dia jadi suka dengan buku dan membaca.

Yang kedua, ada akses bukunya. Buku harus ditempatkan di tempat yang bisa dijangkau oleh anak-anak. Contohnya disebar di lantai, di meja kecil tempat anak belajar, di lemari buku bagian bawah, di mobil, di kamar mandi, di dekat meja makan, taruh di tas, dan sebagainya. Selalu dekatkan dengan buku. Koleksilah buku-buku yang menarik. Tidak perlu selalu buku baru, buku bekas atau buku diskonan pun jadi. Jika ada momen-momen special seperti ultah bisa menghadiahkan buku.

Yang ketiga, role model. Contohkanlah gemar membaca yang berbentuk teks cetak. Bukan dalam bentuk tulisan message whatsapp, atau gadget. Perlihatkan Anda gemar membaca, gemar membawa buku ke mana-mana. Anak perlahan-lahan akan mengadopsi kebiasaan itu pada dirinya.
  
Sesi pertanyaan         
1.  Kadang dalam sesi mendongeng, anak melontarkan pertanyaan dalam jangka waktu yang lama. Bagaimana cara mengalihkannya untuk kembali ke cerita?

Jawab:
Kalau anak banyak bertanya, jawab saja terus sampai mereka puas. Kalau mau dialihin lagi dan waktunya habis, ya udah nggak apa-apa. Kita bisa melanjutkan pada keesokkan hari. Sebenarnya saat mendongeng, bukanlah soal menyelesaikan seluruh cerita. Tapi mendongeng itu lebih ke pengalaman bersama. Kalau misalnya anak bertanya, ya jawab aja terus. Kalau dia terus membahas halaman yang sama, ya biarkan saja. Kalau nanti kita mau bercerita lagi, kita bisa memulai dari awal dan bisa juga melanjutkan di tempat kita selesai kemarin.

Bahkan kita bisa mengetes logika anak dengan melewati beberapa halaman cerita, jika dia menyadarinya, berarti proses berpikir anak berfungsi dengan baik. Karena kemampuan belajar yang harus kita latih pertama kali adalah kemampuan mendengarkan dan kemampuan melihat atau memperhatikan. Itu yang paling penting, itu yang membuat anak sensitif pada lingkungannya. Karena permasalahan anak sekarang adalah tidak sensitif pada lingkungannya.

Contoh ya, anak sekarang jika bermain gadget atau menonton TV jika dipanggil orangtuanya tidak akan bergerak dari tempatnya, kecuali kita tutup layarnya. Nah, itu bahaya sekali. Karena itu membuat anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain dan dia tidak sensitif dengan lingkungan. Itu baru di rumah loh, bagaimana saat di luar di tempat di mana orangtua tidak bisa memantau.

2.  Anak saya ketika saya dongengkan, selalu meminta agar tokohnya itu dia dan orang-orang sekitarnya, itu nggak apa-apa kan, mas?
Jawaban:
Itu nggak apa-apa, Bu. Kalau dia ingin dia jadi jadi tokoh di dalamnya dengan orang yang dekat sama dia itu nggak masalah.

3.   Dongeng yang seperti apa yang cocok dengan anak yang aktif dan nggak bisa duduk diam dalam mendengarkan cerita?
Jawab:
Dalam mendengarkan cerita ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu spend of attention, yaitu jangka waktu seseorang untuk fokus memperhantikan sesuatu. Contohnya, anak usia kelas 2 SD ke bawah, biasanya untuk fokus mendengarkan cerita maksimal itu 5 menit. Bahkan 3 menit mendengarkan saja, itu sudah bagus. Jadi kalau 1 sampai 2 menit bercerita anak sudah main ke mana-mana, itu bukan berarti orangtua tidak pandai bercerita atau bukunya yang terlalu susah. Tapi lebih ke fokus yang dimiliki anak itu.

Sebenarnya sesi mendongeng tidak harus selalu duduk dan mendengarkan cerita. Namun bisa juga dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, contohnya saat sedang macet, kita bisa menceritakan kejadian lucu yang kita alami ketika macet atau lainnya.

Yang terpenting adalah semakin sering waktu yang kita luangkan untuk anak dan itu yang akan mendekatkan hubungan dengan orangtua. Komunikasi itu sangat penting, membuat anak berpikir hal ini bukan hanya tentang cerita tapi juga komunikasi dengan orangtuanya. Anak jadi berpikir, orangtua saya sering menceritakan pengalaman dan perasaannya ketika dia sedih di kantor atau di manapun. Jadi apapun bisa diceritakan pada orangtua. Nah orangtua sekarang itu malas bercerita pada anaknya. Membuat anak justru lebih sering curhat pada teman-teman dekatnya tentang apapun. Kalau temannya baik orangtua bisa tenang, nah bagaimana kalau kebalikannya?

4.   Bagaimana jika anak kita melihat sesuatu materi yang belum sesuai dengan umurnya?
Jawaban:
Tips mendidik anak yang paling baik adalah jujur. Kalau misalnya kita nggak tau, jujur saja. Bilang saja “Wah, Ayah nggak tahu. Nanti kita cari tahu bareng ya.”. Jadi anak itu menjadi tahu bahwa tidak semua hal orangtua itu tahu. Jadi orangtua itu jujur, jadi membuat kita menjadi manusia dan membuat anak juga menjadi selalu jujur pada kita.

Misalkan anak sudah melihat atau mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan usianya, tidak senonoh, atau semacamnya. Kalau saya akan jujur, kalau saya akan bilang begini “Duh, Ayah sedih nih kalau kamu melakukan itu.” atau “Ih, Ayah kaget loh kalau kamu sudah melihat itu sebelumnya. Kamu tahu itu apa?”. Boleh kita tanya seperti itu dan di situ kita harus jujur karena anak sudah melihat konten itu. Misalnya kegiatan berpacaran di sinetron. Di sinetron itu kan ada dua hal yang ditangkap yaitu yang kelihatan dan terdengar. Yang terdengar tuh seperti kalimat-kalimat gombal, rayuan, dan lain-lain. Beda dengan saat kita ngomong dengan anak. Sedangkan yang kelihatan itu seperti sentuhan fisik, rengakulan, dekat, pelukan, atau apa. Jika ibu menjawab “nanti kalau saatnya. Ibu akan kasih tahu itu apa.” justru itu yang bahaya. Karena kita tidak bisa mengawasi anak 24 jam. Tapi nanti anak suatu saat jika anak keluar dari rumah, bisa ke Mall atau di jalan raya, dia akan menemukan hal seperti itu di sana. Jadi nggak apa-apa kalau kita jelaskan lebih awal. Bisa dengan kalimat “Oh itu, ada orang yang lagi dekat. Mungkin yang satu sayang dengan yang satunya, sama seperti Ibu sama kamu. Itulah kenapa kalau kamu tidur Ibu selalu ada di dekat kamu.” Nah kalau dijelas begitu anak akan tahu kalau orang sama orang akan seperti itu dan ada saatnya itu dilakukan sesama orang dewasa. Itu membuat anak tidak berpikir negatif. Penjelasan orangtua akan lebih baik daripada anak mengetahui dari teman sepantarnya. Karena kita tidak tahu bagaimana mereka akan menjelaskannya karena bisa saja negatif.

5.   Bagaimana jika anak lebih senang mengakses gadget daripada mendengarkan dongeng?
Jawaban:
Sekarang, banyak orangtua yang menganggap gadget sebagai suatu masalah. Sebnarnya sudah pada tau nih anak itu tidak boleh terlalu banyak terpapar gadget, tapi pemakaian gadget nggak bisa dihindarin rasa orangtua untuk memberikan gadget tersebut pada anak. Karena anak lebih tenang, mudah diawasi, dan anak tidak ke mana-mana. Anak juga dikasih lihat yang bagus-bagus kok. Sebenarnya itu nggak papa. Ada teman saya yang anaknya belajar bahasa Inggris dari sana dan sebenarnya gadget memiliki banyak manfaat.

Sebenarnya gadget itu hanya alat dan sebenarnya untuk anak SD kelas 2 ke bawah kalau dia mengakses gadget, secara psikologis itu tidak boleh. Sedangkan anak kelas 2 ke atas boleh, namun dibatasi hanya boleh 10 jam dalam seminggu. Karena dia harus melakukan kegiatan yang merangsang motorik halus dan motorik kasarnya. Dia harus mengenal sesuatu yang bisa lihat dan sentuh, karena dia harus belajar apa yang dia lakukan sehari-hari. Gadget itu cuman mengaktifkan pendengaran dan penglihatan saja, tapi gadget itu tidak mengaktifkan rasa yaitu sel-sel syaraf yang ada di kulit. Juga tidak mengaktifkan penciuman dan sensor motorik lainnya yang merangsang otak. Ketika dia bermain yang menggunakan fisik, dia mengalami pengalaman menyentuh barang-barang, tahu tentang tekstur, tahu baunya seperti apa dan otaknya akan mempelajari itu semua.

Nah, caranya adalah jangan dihentikan dan jangan dialihkan langsung. Pelan-pelan saja. Anak usia PAUD seperti ini harus ada pendampingan. Jadi sambil bermain, anak juga berinteraksi dengan kita. Dengan cara kita mengomentari permainan yang dia mainkan, ikut bermain dan memberikan saran untuk menyelesaikan. Sehingga yang seru tetap orangtuanya, bukan gadgetnya. Jadi jangan cuma kasih gadget pada anak, lalu ditinggalkan. Itu yang bahaya. Karena kalau kita tidak dampingi, di usia anak masuk TK saja, dia sudah dapat menyalakan gadget dan mengakses internet. Kita tidak tahu apa-saja yang mereka buka di sana. Kalau kita biasa mendampingi, anak akan mengetahui permainan apa saja yang boleh diakses. Dan jika terbiasa, mereka justru akan meminta pendapat orangtua apakah boleh meaksesnya atau tidak.

Yang kedua adalah akses. Lebih banyak mana orangtua memberikan akses buku atau gadget kepada anak. Yang ketiga, role modelnya. Ketika anak ada di rumah, perilaku seperti apa yang anak lihat dari orangtuanya. Apakah orangtuanya sering mengakses social media, update status atau semacamnya? kalau iya, semua yang kita usahakan sia-sia. Karena itu buat aturan, jika sudah pulang ke rumah, semua gadget disimpan. Kalaupun ada yang mendesak untuk dikerjakan, lakukan di ruang tertutup di mana anak tidak bisa melihatnya. Karena sekarang dengan adanya gadget juga semakin dikit interaksi kita dengan anak-anak. Bahkan ketika jalan-jalan pun penggunaan gadget sebisa mungkin diminimalkan. Keluarkan untuk hal-hal yang perlu saja, seperti mengangkat telpon masuk atau mengambil foto. Jadi role model itu penting juga.

6.   Anak saya lebih senang membaca buku cerita dengan bahasa Inggris. Saya khawatir, dia belum fasih berbahasa Indonesia, tapi dia sudh mencoba untuk belajar bahasa Inggris. Apa ini tidak apa-apa?

Jawaban:
Boleh mengajarkan dua bahasa sekaligus, tapi jangan campur-campur seperti “ayo! Let’s go! Kita eating dulu”. Jadi berbagi peran, bapaknya mengajarkan bahasa Indonesia dan ibunya mengajar bahasa inggris, bisa juga sebaliknya. Karena mengenalkan beberapa bahasa itu tidak akan masalah. Tidak aka nada kebingungan berbahasan. Mungkin awalnya iya, tapi ke belakang dia akan mengerti kalau setiap bahasa berbeda.

Kalau kita nggak jago-jago banget dengan bahasa inggris, yang penting kita berani mengucapkannya. Salah nggak apa-apa, aneh mengucapkannya juga nggak apa-apa. yang penting kita berkomunikasi. Yang penting berani ngomong, itu yang kita ajarkan pada anak. Sehingga kelak nanti dia berani memahami dengan mendengarkan.


See you on the next post!








1 comment:

Inayah said...

kpan ya terakhir didongengin?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...