Sunday, November 15, 2015

Selamat Tinggal Joyo...


Credit: www.freepik.com

Kamis minggu lalu, teman masa kecilku, Mas Dwi Joyo meninggal dunia. Umurnya baru 26 tahun, menikah dengan Rahma selama 1 tahun 3 bulan, dan memiliki putri yang sedang lucu-lucunya berumur 3 bulan. Selama berteman dengannya, aku tidak pernah menyangka hidupnya bisa sesingkat itu.
Hari itu, sekitar pukul 7 pagi, Mama ke kamar dengan terbirit-birit.
“Afi! Afi!” teriaknya memasuki kamar.
Aku yang sedang asik di depan komputer menoleh. Mendapati raut yang tak biasa di wajah mamaku. Tapi ada firasat, apa yang disampaikan pasti bukanlah kabar baik.
“Dimas, Fi! Meninggal!”
Mataku melebar.
“Dimas yang mana?” tanyaku dungu. Sebenarnya aku tahu Dimas mana yang mamaku maksud, tapi aku masih belum yakin.
“Dimas teman SD kamu itu loh, yang di gang 9.”
Hatiku serasa diremas mendengar kabar itu. Kuhampiri Mama cepat-cepat.
“Kapan meninggalnya? Karena apa? Dimas memang sakit? ini beneran? Mama nggak bercanda?” tanyaku membombardir. Benar –benar tak percaya.
“Beneran, tadi pagi diumumin. Tapi Mama nggak engeh kalau itu Dimas teman kamu. Tadi pagi katanya, Mama juga nggak tau karena apa. Belum nanya-nanya lagi.”
“Lah? Ini Mama taunya dari mana?”
“Kiki, tadi pas dia beli makanan ngasih tau ke Mama.”
“Mam, nanti cegat Kiki ya. Aku mau nanya-nanya dia.”
Mama menunggu di depan teras, sedangkan aku buru-buru mencari kerudung untuk keluar rumah. Setelah menemukan kerudung, sambil menunggu Kiki lewat, aku membuka Google Chrome, menuju Facebook. Ya, pasti setidaknya sudah ada berita belasungkawa kalau Joyo―biasanya teman sepergaulan memanggilnya begitu― benar-benar meninggal. Aku memang sedikit keras kepala, masih tak percaya kalau dia benar-benar pergi.
Sialnya, pagi itu Facebook tidak bersahabat. Berkali-kali loading, berkali-kali mendapatkan pengumuman “this webpage is not available”. Edan, padahal web-web yang lain masih bisa dibuka. Ya sudah kalau begitu, artinya aku memang harus bicara dengan Kiki.
Tidak beberapa lama Mama berseru memanggilku dari teras. Tergopoh-gopoh aku ke pagar rumahku, mendapati Kiki yang mengandung beberapa bulan itu sedang bersama adik laki-lakinya.
“Ki, ini beneran Joyo udah nggak ada? Kapan? Sakit apa? kok tiba-tiba banget?” cecarku tak sabaran.
“Iya fi, tadi subuh jam 4. Katanya masuk angin beberapa hari ini, tiba-tiba pagi ini sudah nggak ada. Gue juga belum tau sakit apa dia.”
“Terus skrg jenazahnya ada dimana?”
“Masih di rumah mertuanya. Katanya akan dibawa ke sini. Ini ibunya sedang ada di sana.”
“Oh, jadi lagi rapi-rapi ya di rumahnya?”
“Nah itu, tadi ibunya Joyo bawa kunci rumah. Jadi kita nggak bisa beresin. Ini orangtuaku lagi nyusul minta kunci, biar dirapihin dulu.”
Keluarga Kiki dan Joyo memang dekat. Rumah mereka tepat bersebelahan. Mereka bukan lagi disebut tetangga, tapi keluarga. Joyo juga sudah seperti anak mereka, saudara Kiki juga. Tadinya aku berniat untuk bantu beres-beres rumah, tapi berhubung sepertinya acaranya belum jelas aku jadi urung. Setelah mengobrol beberapa saat, Kiki pamit pulang.
Aku ada urusan pagi itu dan baru kembali jam 2 siang. Dari sms yang dikirimkan Kiki, Dimas sudah dikebumikan sebelum dzuhur. Jenazah hanya mampir sebentar di mesjid dekat rumah, disholatkan, kemudian baru diantar di tempat pemakaman. Jadi memang tak ada kegiatan melawat jenazah seperti biasa.
Setelah istirahat sebentar dan sholat Ashar di rumah, jam 4 sore aku datang di rumahnya. Di sepanjang jalan, kursi-kursi plastik sudah dijejerkan. Bapak-bapak tetangga sedang asik merokok dan mengobrol.  Beberapa karangan bunga ucapan bela sungkawa menghiasi jalan menuju rumah Joyo. Rumah Kiki juga terbuka lebar untuk menampung tamu.
Ketika aku masuk ke rumah Joyo, sudah ada beberapa sanak saudara dan tetangga sedang mengelilingi Ibu Joyo. Ibu Joyo terlihat tegar. Matanya memang memerah, tapi tangisan itu sudah berhenti. Tidak, tertahan lebih tepatnya. Di sana juga kutemukan Yunisa, salah satu teman SDku. Sudah begitu lama kamu tidak bertemu, pangling rasanya. Dia sudah punya 1 anak dan baru saja melahirkan.
“Yun, Joyo udah nggak ada.” Kataku sedih.
Yunisa dengan mata berkaca-kaca mengangguk.
“Iya, gue juga kaget pas baca pesan BB. Gue juga nggak percaya.”
Kami mengobrol sebentar, soal Joyo, soal kehidupan kami sekarang. Tapi selebihnya, kami lebih fokus mendengarkan Ibu Joyo bercerita tentang kebaikan anaknya yang tidak ada habis-habisnya. Tentang bagaimana dia memilihkan calon istri untuk anaknya itu. Tentang Joyo yang senang guyon dan tak pernah marah. Tentang SMS puisi doa Joyo untuk ibunya saat hari Ibu yang begitu menyentuh. Membuat ibunya menyimpan SMS itu di ponsel tuanya. Dia juga bercerita tentang bagaimana Joyo meninggal tadi pagi.
Joyo sebenarnya sudah sakit 2 hari yang lalu. Masuk angin katanya. Istrinya sudah menyuruhnya istirahat dulu, tidak perlu masuk kerja hari itu. Tapi mungkin karena hanya masuk angin, Joyo tetap masuk kerja. Toh dia anak pecinta alam yang biasa menantang gunung, masuk angin itu masalah sepele.
Hari itu dia juga sempat mengantarkan istrinya untuk check up, karena baru beberapa hari sembuh dari typus. Istrinya meminta dia juga untuk ikut memeriksakan kesehatannya, tapi dia tidak mau. Masa masuk angin saja pakai diperiksa segala.
Sepulangnya di rumah, dia masih sempat mengobrol dengan mertuanya. Sebelum tidur, dia masih mengajak putrinya bercanda dan menge-post foto mesra mereka berdua di Path.  Malam itu, sebelum berangkat tidur dia meneguk cairan tolak angin. Ini hanya masuk angin.
Segala sesuatu berjalan seperti biasa, sampai jam 3 pagi. Ketika itu Rahma terbangun untuk menyusui anaknya. Dia melihat pemandangan yang membuat semua hati istri terasa disayat. Suaminya kejang-kejang. Dengan panik, dipanggil ayahnya untuk mengecek keadaan Joyo. Alih-alih mengecek, ayahnya malah membacakan dua kalimat syahadat. Rahma dengan tangan gemetar menelpon ibu mertuanya.
“Bu…, mas Joyo… aku nggak tau kenapa… kejang-kejang. Ibu… kenapa Mas Joyo?” ucapnya tak beraturan di antara derai kesedihan.
Jantung Ibu Joyo mencelos mendengar kabar itu. Yang dia tahu dia harus berangkat ke Rumah sakit yang disebutkan Rahma tadi. Bersama suaminya dia buru-buru ke sana. Tak ada prasangka apa-apa, dia berharap anaknya baik-baik saja. Dokter pasti memeriksa, memberikan obat, dan menginfusnya. Namun bukan itu yang ditemukannya saat membuka ruang ICU.
Tubuh Joyo yang kaku sudah ditutup kain jarik. Anak bungsunya, yang sejak beberapa tahun ini menjadi anak satu-satunya itu sudah berpulang.
Ibu Joyo menceritakan dengan air mata yang menggenang di batas matanya. Suaranya bergetar menahan segala perasaan yang bergejolak di permukaan. Sesekali ceritanya berganti menjadi tangisan, hanya sesaat lalu tenang kembali. Ditunjukkan foto Joyo yang sudah berpulang. Betapa tenang tidur wajahnya dalam tidur panjang. 
Di akhir ceritanya, Ibu Joyo mengatakan sebuah kalimat yang menyentuh, setidaknya buatku.
“Mungkin Joyo pulang terlebih dulu, karena tau Ibu kuat kalau ditinggal Joyo. Sedangkan Joyo mungkin nggak sekuat itu kalau ditinggal Ibu.”  
Ada satu jam kami bercengkrama di sana. Satu-satunya tamu pergi, begitu juga aku.
“Tante, yang tabah ya. Semoga Joyo khusnul khotimah.” Ucapku sambil memelukku.
Kalimat yang kususun sebagai penghiburan, harapan sekaligus doa untuk teman masa kecilku itu. Ibu Joyo hanya sesegukan menerima kalimatku.
Semua tamu sudah keluar. Ibu Joyo hanya sendirian di dalam, diminta sanak saudaranya untuk makan dulu. Tiba-tiba kudengar tangis yang kencang. Duka mendalam yang tidak mau ditunjukkan untuk siapapun yang datang.
Aku pulang sambil bernostalgia menapaki jalan tempat kubermain bersama Joyo, Kiki, Nur, Guntur, dan Tari di masa kecil. Sekarang Joyo pergi, satu-satu dari kami pun kelak juga begitu. Kami hanya diberikan waktu yang lebih lama untuk hidup, untuk beribadah, untuk mencintai orang-orang yang kami sayangi. Hingga kelak nanti, kami juga akan tiada dengan meninggalkan banyak kebaikan, seperti teman sepermainanku, Joyo.
Selamat tinggal, Joyo. Dan sampai berjumpa kembali suatu hari nanti.

1 comment:

intnslpl said...

Afiiiii, seketika inget moment ke rumah nya pas setelah denger kabar Joyo gak ada, waktu itu sm Cholid, pasti kenal. Hhuhuuu, iya teman terbaik kita banget dari SD bahkan udah beda2 sekolah juga. Senang membaca tulisan mu jadi terkenang.

Btw, how are you? Hope you're doing well..
Meet up lah kapan2..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...