Credit: www.freepik.com
Kamis minggu lalu, teman masa kecilku, Mas Dwi Joyo meninggal dunia. Umurnya baru 26 tahun, menikah dengan Rahma selama 1 tahun 3 bulan, dan memiliki putri yang sedang lucu-lucunya berumur 3 bulan. Selama berteman dengannya, aku tidak pernah menyangka hidupnya bisa sesingkat itu.
Hari itu, sekitar pukul 7 pagi, Mama ke kamar dengan
terbirit-birit.
“Afi! Afi!” teriaknya memasuki kamar.
Aku yang sedang asik di depan komputer menoleh. Mendapati
raut yang tak biasa di wajah mamaku. Tapi ada firasat, apa yang disampaikan
pasti bukanlah kabar baik.
“Dimas, Fi! Meninggal!”
“Dimas yang mana?” tanyaku dungu. Sebenarnya aku tahu Dimas
mana yang mamaku maksud, tapi aku masih belum yakin.
“Dimas teman SD kamu itu loh, yang di gang 9.”
Hatiku serasa diremas mendengar kabar itu. Kuhampiri Mama
cepat-cepat.
“Kapan meninggalnya? Karena apa? Dimas memang sakit? ini
beneran? Mama nggak bercanda?” tanyaku membombardir. Benar –benar tak percaya.
“Beneran, tadi pagi diumumin. Tapi Mama nggak engeh kalau itu Dimas teman kamu. Tadi
pagi katanya, Mama juga nggak tau karena apa. Belum nanya-nanya lagi.”
“Lah? Ini Mama taunya dari mana?”
“Kiki, tadi pas dia beli makanan ngasih tau ke Mama.”
“Mam, nanti cegat Kiki ya. Aku mau nanya-nanya dia.”
Mama menunggu di depan teras, sedangkan aku buru-buru mencari
kerudung untuk keluar rumah. Setelah menemukan kerudung, sambil menunggu Kiki
lewat, aku membuka Google Chrome, menuju Facebook. Ya, pasti setidaknya sudah
ada berita belasungkawa kalau Joyo―biasanya teman sepergaulan memanggilnya
begitu― benar-benar meninggal. Aku memang sedikit keras kepala, masih tak
percaya kalau dia benar-benar pergi.
Sialnya, pagi itu Facebook tidak bersahabat. Berkali-kali loading,
berkali-kali mendapatkan pengumuman “this
webpage is not available”. Edan, padahal web-web yang lain masih bisa
dibuka. Ya sudah kalau begitu, artinya aku memang harus bicara dengan Kiki.
Tidak beberapa lama Mama berseru memanggilku dari teras. Tergopoh-gopoh
aku ke pagar rumahku, mendapati Kiki yang mengandung beberapa bulan itu sedang
bersama adik laki-lakinya.
“Ki, ini beneran Joyo udah nggak ada? Kapan? Sakit apa? kok
tiba-tiba banget?” cecarku tak sabaran.
“Iya fi, tadi subuh jam 4. Katanya masuk angin beberapa hari
ini, tiba-tiba pagi ini sudah nggak ada. Gue juga belum tau sakit apa dia.”
“Terus skrg jenazahnya ada dimana?”
“Masih di rumah mertuanya. Katanya akan dibawa ke sini. Ini
ibunya sedang ada di sana.”
“Oh, jadi lagi rapi-rapi ya di rumahnya?”
“Nah itu, tadi ibunya Joyo bawa kunci rumah. Jadi kita nggak
bisa beresin. Ini orangtuaku lagi nyusul minta kunci, biar dirapihin dulu.”
Keluarga Kiki dan Joyo memang dekat. Rumah mereka tepat
bersebelahan. Mereka bukan lagi disebut tetangga, tapi keluarga. Joyo juga
sudah seperti anak mereka, saudara Kiki juga. Tadinya aku berniat untuk bantu
beres-beres rumah, tapi berhubung sepertinya acaranya belum jelas aku jadi
urung. Setelah mengobrol beberapa saat, Kiki pamit pulang.
Aku ada urusan pagi itu dan baru kembali jam 2 siang. Dari
sms yang dikirimkan Kiki, Dimas sudah dikebumikan sebelum dzuhur. Jenazah hanya
mampir sebentar di mesjid dekat rumah, disholatkan, kemudian baru diantar di
tempat pemakaman. Jadi memang tak ada kegiatan melawat jenazah seperti biasa.
Setelah istirahat sebentar dan sholat Ashar di rumah, jam 4
sore aku datang di rumahnya. Di sepanjang jalan, kursi-kursi plastik sudah
dijejerkan. Bapak-bapak tetangga sedang asik merokok dan mengobrol. Beberapa karangan bunga ucapan bela sungkawa
menghiasi jalan menuju rumah Joyo. Rumah Kiki juga terbuka lebar untuk
menampung tamu.
Ketika aku masuk ke rumah Joyo, sudah ada beberapa sanak
saudara dan tetangga sedang mengelilingi Ibu Joyo. Ibu Joyo terlihat tegar. Matanya
memang memerah, tapi tangisan itu sudah berhenti. Tidak, tertahan lebih tepatnya. Di sana
juga kutemukan Yunisa, salah satu teman SDku. Sudah begitu lama kamu tidak
bertemu, pangling rasanya. Dia sudah punya 1 anak dan baru saja melahirkan.
“Yun, Joyo udah nggak ada.” Kataku sedih.
Yunisa dengan mata berkaca-kaca mengangguk.
“Iya, gue juga kaget pas baca pesan BB. Gue juga nggak
percaya.”
Kami mengobrol sebentar, soal Joyo, soal kehidupan kami sekarang.
Tapi selebihnya, kami lebih fokus mendengarkan Ibu Joyo bercerita tentang
kebaikan anaknya yang tidak ada habis-habisnya. Tentang bagaimana dia memilihkan calon istri untuk anaknya itu. Tentang Joyo yang senang
guyon dan tak pernah marah. Tentang SMS puisi doa Joyo untuk ibunya saat hari Ibu yang begitu menyentuh. Membuat ibunya menyimpan SMS itu di ponsel tuanya. Dia juga
bercerita tentang bagaimana Joyo meninggal tadi pagi.
Joyo sebenarnya sudah sakit 2 hari yang lalu. Masuk angin
katanya. Istrinya sudah menyuruhnya istirahat dulu, tidak perlu masuk kerja
hari itu. Tapi mungkin karena hanya masuk angin, Joyo tetap masuk kerja. Toh
dia anak pecinta alam yang biasa menantang gunung, masuk angin itu masalah sepele.
Hari itu dia juga sempat mengantarkan istrinya untuk check up, karena baru beberapa hari
sembuh dari typus. Istrinya meminta dia juga untuk ikut memeriksakan
kesehatannya, tapi dia tidak mau. Masa masuk angin saja pakai diperiksa segala.
Sepulangnya di rumah, dia masih sempat mengobrol dengan mertuanya. Sebelum tidur, dia masih mengajak putrinya bercanda dan
menge-post foto mesra mereka berdua
di Path. Malam itu, sebelum
berangkat tidur dia meneguk cairan tolak angin. Ini hanya masuk angin.
Segala sesuatu berjalan seperti biasa, sampai jam 3 pagi.
Ketika itu Rahma terbangun untuk menyusui anaknya. Dia melihat pemandangan yang
membuat semua hati istri terasa disayat. Suaminya kejang-kejang. Dengan panik, dipanggil
ayahnya untuk mengecek keadaan Joyo. Alih-alih mengecek, ayahnya malah
membacakan dua kalimat syahadat. Rahma dengan tangan gemetar menelpon ibu
mertuanya.
“Bu…, mas Joyo… aku nggak tau kenapa… kejang-kejang. Ibu…
kenapa Mas Joyo?” ucapnya tak beraturan di antara derai kesedihan.
Jantung Ibu Joyo mencelos mendengar kabar itu. Yang dia tahu
dia harus berangkat ke Rumah sakit yang disebutkan Rahma tadi. Bersama suaminya
dia buru-buru ke sana. Tak ada prasangka apa-apa, dia berharap anaknya
baik-baik saja. Dokter pasti memeriksa, memberikan obat, dan menginfusnya. Namun
bukan itu yang ditemukannya saat membuka ruang ICU.
Tubuh Joyo yang kaku sudah ditutup kain jarik. Anak bungsunya, yang
sejak beberapa tahun ini menjadi anak satu-satunya itu sudah berpulang.
Ibu Joyo menceritakan dengan air mata yang menggenang di
batas matanya. Suaranya bergetar menahan segala perasaan yang bergejolak di
permukaan. Sesekali ceritanya berganti menjadi tangisan, hanya sesaat lalu
tenang kembali. Ditunjukkan foto Joyo yang sudah berpulang. Betapa tenang
tidur wajahnya dalam tidur panjang.
Di akhir ceritanya, Ibu Joyo mengatakan sebuah kalimat yang menyentuh, setidaknya buatku.
“Mungkin Joyo pulang terlebih dulu, karena tau Ibu kuat kalau
ditinggal Joyo. Sedangkan Joyo mungkin nggak sekuat itu kalau ditinggal Ibu.”
Ada satu jam kami bercengkrama di sana. Satu-satunya tamu
pergi, begitu juga aku.
“Tante, yang tabah ya. Semoga Joyo khusnul khotimah.” Ucapku sambil
memelukku.
Kalimat yang kususun sebagai penghiburan, harapan sekaligus
doa untuk teman masa kecilku itu. Ibu Joyo hanya sesegukan menerima kalimatku.
Semua tamu sudah keluar. Ibu Joyo hanya sendirian di dalam,
diminta sanak saudaranya untuk makan dulu. Tiba-tiba kudengar tangis yang
kencang. Duka mendalam yang tidak mau ditunjukkan untuk siapapun yang datang.
Aku pulang sambil bernostalgia menapaki jalan tempat kubermain bersama Joyo, Kiki, Nur, Guntur, dan Tari di masa kecil. Sekarang Joyo pergi,
satu-satu dari kami pun kelak juga begitu. Kami hanya diberikan waktu yang lebih
lama untuk hidup, untuk beribadah, untuk mencintai orang-orang yang kami sayangi. Hingga kelak nanti, kami juga akan tiada dengan meninggalkan
banyak kebaikan, seperti teman sepermainanku, Joyo.
Selamat tinggal, Joyo. Dan sampai berjumpa kembali suatu hari
nanti.

1 comment:
Afiiiii, seketika inget moment ke rumah nya pas setelah denger kabar Joyo gak ada, waktu itu sm Cholid, pasti kenal. Hhuhuuu, iya teman terbaik kita banget dari SD bahkan udah beda2 sekolah juga. Senang membaca tulisan mu jadi terkenang.
Btw, how are you? Hope you're doing well..
Meet up lah kapan2..
Post a Comment