Friday, December 4, 2015

The Hunger Games: Mockingjay Part 2, Pertemuran Terakhir Katniss!



                Setelah film pertama yang diakhiri dengan adegan Katniss diserang dan dicekik Peeta, aku langsung merasa memiliki kewajiban untuk nonton kelanjutannya. Akhirnya, setelah menunggu setahun lamanya, film terakhir dari trilogi The Hunger Games ini dirilis juga di bioskop seluruh Indonesia. Yuhuuu!
                Cerita The Hunger Games secara keseluruhan bercerita tentang perperangan, politik, dan propaganda. Yang unik dari film yang mengangkat tema yang sama, yaitu perperangan kali ini melibatkan anak-anak dan remaja sebagai tokoh sentral. Katniss sendiri baru berumur 16 tahun ketika memulai petualangan dan di Mockingjay ini umurnya baru naik satu peringkat, 17 tahun. Di umur semuda itu Katniss sudah berhasil menyatukan seluruh panem dengan karismanya dan didapuk untuk memimpin perang melawan Capitol. Alamak, 17 tahun gitu loh! beban sudah sebegitu beratnya. Part 2 ini juga menggambarkan puncak dari perjuangan Katniss dan seluruh penduduk panen untuk menumbangkan kekuasaan Capitol yang sudah menjajah mereka hampir satu abad lamanya.
                Tidak seperti film-film sebelumnya, penceritaan kali ini kebanyakan diambil dari sisi Katniss. Sehingga banyak misteri yang baru diketahui di tengah jalan. Seperti  rencana terpendam Coin, serangan Capitol yang tidak terprediksi, dan pengeboman yang membunuh banyak penduduk Capitol. Mungkin ini disengaja untuk memberikan efek penasaran dan kejutan. Karena jujur saja, 30 menit pertama film terasa begitu lamban, membosankan, dan hampir membuatku tidur. Karena banyak momen pengulangan―seperti momen rapat bersama Coin, perpisahan sentimental dengan Prim, pembuatan video propaganda―yang sudah ada di film sebelumnya. Selepas dari 30 menit awal, film ini menarik ditonton. Khususnya dengan banyaknya jebakan pod yang menjamur di seluruh kota, yang berakibat fatal jika mereka salah langkah. Adegan yang paling kena tegangnya waktu mutt dilepas di saluran air kota. Hampir seperti salah satu scene Resident Evil dengan zombie mutasinya. Namun di adegan ini juga harus mengorbankan salah satu tokoh favoritnya aku yang ganteng itu *garuk-garuk tanah nggak rela.
                Sayangnya, adegan mutt itu seperti jadi klimaks cerita. Ke depannya, adegan menjadi terasa hambar dan biasa-biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Kukira penaklukan Capitol akan dibuat sedramatis mungkin. Memang sih terjadi huru-hara dan pengeboman di depan Rumah President Snow. Tapi ketegangan terhenti ketika Katniss terkena bom, pingsan, bangun di tenda pengobatan, dan keesokan harinya sudah memasuki Rumah President Snow dengan santai.
                Untuk ending-nya, sudah bisa ditebak sepertinya, apalagi yang sudah membaca buku The Hunger Games sebelumnya. Yap, happy ending. Bahkan juga diceritakan kelanjutan hubungan Katniss dan Peeta. Kayaknya ini lebih untuk fans service sih, secara penasaran kan sama kisah cinta mereka yang unyu-unyu itu. Filmnya ditutup dengan adegan Katniss tersenyum sambil duduk di padang rumput. Tangannya sibuk menggendong bayinya dan matanya memandangi Peeta yang sedang bermain dengan anak sulung mereka. Begitu manis, damai, dan menentramkan. Membuatku merenung, untuk mendapatkan ketiga hal itu Katniss dan seluruh penduduk panen harus melewati penjajahan dan peperangan yang begitu panjang dan menyakitkan. Sampai harus mengorbankan orang-orang dan kehidupan yang mereka cintai. Mirip-mirip Indonesia di zaman penjajahan dulu.
                Meski  ada beberapa hal yang kurang dari jalan ceritanya, aku harus acungi jempol adalah acting dari para pemainnya, khususnya Jennifer Lawrence yang begitu menghayati perannya. Dia dapat mempresentasikan pergulatan batin Katniss karena harus mengikuti hal-hal yang bertentangan dengan moralitasnya, rasa bersalahnya karena harus berbohong tentang misi mereka yang berakibat matinya beberapa anggota squadnya, atau keberaniannya untuk melawan Coin. Apalagi kalau Jenlaw sedang berorasi di depan pendukungnya, rasanya ingin teriak “MERDEKA!!!”. Adegan favoritku dari Jenlaw yaitu ketika dia marah-marah dengan kucingnya Prim. Dilihat dari kemarahannya, kukira dia akan menghajar, memukuli, dan membanting kucing itu sampai mati. Ternyata enggak, malah dipeluk sambil nangis sekeras-kerasnya. Terasa sekali, kalau dia sangat kehilangan adiknya yang tewas saat pengeboman.
                 Nggak kerasa, The Hunger Games trilogi sudah sampai di akhir cerita. Dengan segala kekurangannya, film ini sangat rekomen kok untuk ditonton. 

Penilaian:
3.5/5

               


2 comments:

Innnayah said...

aawww spoiler hiihihi

Thawafi Arofanti said...

nay!!! makasih dah mampir ke sini :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...