Setelah film pertama yang
diakhiri dengan adegan Katniss diserang dan dicekik Peeta, aku langsung merasa
memiliki kewajiban untuk nonton kelanjutannya. Akhirnya, setelah menunggu
setahun lamanya, film terakhir dari trilogi The Hunger Games ini dirilis juga
di bioskop seluruh Indonesia. Yuhuuu!
Cerita The Hunger Games secara
keseluruhan bercerita tentang perperangan, politik, dan propaganda. Yang unik
dari film yang mengangkat tema yang sama, yaitu perperangan kali ini melibatkan
anak-anak dan remaja sebagai tokoh sentral. Katniss sendiri baru berumur 16 tahun
ketika memulai petualangan dan di Mockingjay ini umurnya baru naik satu
peringkat, 17 tahun. Di umur semuda itu Katniss sudah berhasil menyatukan
seluruh panem dengan karismanya dan didapuk untuk memimpin perang melawan
Capitol. Alamak, 17 tahun gitu loh! beban sudah sebegitu beratnya. Part 2 ini juga
menggambarkan puncak dari perjuangan Katniss dan seluruh penduduk panen untuk
menumbangkan kekuasaan Capitol yang sudah menjajah mereka hampir satu abad
lamanya.
Tidak seperti film-film
sebelumnya, penceritaan kali ini kebanyakan diambil dari sisi Katniss. Sehingga
banyak misteri yang baru diketahui di tengah jalan. Seperti rencana terpendam Coin, serangan Capitol yang
tidak terprediksi, dan pengeboman yang membunuh banyak penduduk Capitol. Mungkin
ini disengaja untuk memberikan efek penasaran dan kejutan. Karena jujur saja, 30
menit pertama film terasa begitu lamban, membosankan, dan hampir membuatku
tidur. Karena banyak momen pengulangan―seperti momen rapat bersama Coin, perpisahan sentimental
dengan Prim, pembuatan video propaganda―yang sudah ada di film sebelumnya. Selepas
dari 30 menit awal, film ini menarik ditonton. Khususnya dengan banyaknya
jebakan pod yang menjamur di seluruh kota, yang berakibat fatal jika mereka
salah langkah. Adegan yang paling kena tegangnya waktu mutt dilepas di saluran air kota. Hampir seperti salah satu scene Resident Evil dengan zombie
mutasinya. Namun di adegan ini juga harus mengorbankan salah satu tokoh
favoritnya aku yang ganteng itu *garuk-garuk tanah nggak rela.
Sayangnya, adegan mutt itu seperti jadi klimaks cerita. Ke
depannya, adegan menjadi terasa hambar dan biasa-biasa saja. Nggak ada yang
istimewa. Kukira penaklukan Capitol akan dibuat sedramatis mungkin. Memang sih
terjadi huru-hara dan pengeboman di depan Rumah President Snow. Tapi ketegangan
terhenti ketika Katniss terkena bom, pingsan, bangun di tenda pengobatan, dan
keesokan harinya sudah memasuki Rumah President Snow dengan santai.
Untuk ending-nya, sudah bisa ditebak sepertinya, apalagi yang sudah
membaca buku The Hunger Games sebelumnya. Yap, happy ending. Bahkan juga diceritakan kelanjutan hubungan Katniss
dan Peeta. Kayaknya ini lebih untuk fans
service sih, secara penasaran kan sama kisah cinta mereka yang unyu-unyu
itu. Filmnya ditutup dengan adegan Katniss tersenyum sambil duduk di padang
rumput. Tangannya sibuk menggendong bayinya dan matanya memandangi Peeta yang
sedang bermain dengan anak sulung mereka. Begitu manis, damai, dan
menentramkan. Membuatku merenung, untuk mendapatkan ketiga hal itu Katniss dan
seluruh penduduk panen harus melewati penjajahan dan peperangan yang begitu
panjang dan menyakitkan. Sampai harus mengorbankan orang-orang dan kehidupan
yang mereka cintai. Mirip-mirip Indonesia di zaman penjajahan dulu.
Meski ada beberapa hal yang kurang dari jalan
ceritanya, aku harus acungi jempol adalah acting
dari para pemainnya, khususnya Jennifer Lawrence yang begitu menghayati
perannya. Dia dapat mempresentasikan pergulatan batin Katniss karena harus mengikuti
hal-hal yang bertentangan dengan moralitasnya, rasa bersalahnya karena harus
berbohong tentang misi mereka yang berakibat matinya beberapa anggota squadnya, atau keberaniannya untuk melawan Coin. Apalagi kalau Jenlaw sedang
berorasi di depan pendukungnya, rasanya ingin teriak “MERDEKA!!!”. Adegan
favoritku dari Jenlaw yaitu ketika dia marah-marah dengan kucingnya Prim. Dilihat
dari kemarahannya, kukira dia akan menghajar, memukuli, dan membanting kucing
itu sampai mati. Ternyata enggak, malah dipeluk sambil nangis sekeras-kerasnya.
Terasa sekali, kalau dia sangat kehilangan adiknya yang tewas saat pengeboman.
Nggak kerasa, The Hunger Games trilogi sudah
sampai di akhir cerita. Dengan segala kekurangannya, film ini sangat rekomen
kok untuk ditonton.
Penilaian:
3.5/5

2 comments:
aawww spoiler hiihihi
nay!!! makasih dah mampir ke sini :D
Post a Comment